Saturday, June 27, 2015

The First Time Ever I Saw Your Face


The First Time Ever I Saw Your Face
I thought the sun rose in your eyes
....



Sepenggal lirik lagu lama tersebut mungkin merupakan kalimat yang paling menggambarkan perasaan saya saat pertama kali bertemu The Perfect Wife.  Seorang wanita dengan paras ayu, berkulit putih bersih, tubuh tinggi semampai, dengan senyum malu-malu, menghampiri dan mengulurkan tangan kepada saya. Untuk beberapa detik pertama, saya masih terpana dengan sosoknya yang mempesona sebelum akhirnya saya tersadar dan buru-buru menyambut uluran tangannya. Bahkan tangannya terasa lembut bersentuhan dengan kulit tangan saya yang kasar. Saya terpesona. 

Walaupun saya seorang wanita, salah satu kebiasaan saya yang sering dianggap aneh oleh teman-teman adalah senang melihat wanita cantik. Saya senang menatap kesempurnaan wajah wanita-wanita cantik tersebut dan mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah. Kadang saya sering mendapat tuduhan dari orang-orang yang berpikir kalau saya sebenarnya iri dengan keindahan wajah wanita-wanita tersebut. Sejujurnya hal itu saya lakukan bukan karena iri namun saya hanya seorang pengagum keindahan. Toh semuanya masih dalam tahap wajar, pikir saya.

Sambil menikmati makan malam, saya pun berbincang-bincang dengan Perfect Wife.  Dia usianya setahun lebih muda dari saya, anak semata wayang dari pasangan dokter ternama, termasuk dari keluarga berada dan terpandang (saya tahu dari tante calon suami saya yang dengan ikhlas membagi segala informasi yang dimilikinya tentang semua orang), dan sedang menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Saya hanya manggut-manggut mendengarkan semua informasi tersebut. 

Terlepas dari "promosi" meyakinkan si tante terhadap Perfect Wife, saya bisa melihat bahwa dia merupakan sosok wanita yang anggun, sopan, tidak banyak bicara, murah senyum dan rendah hati. Walaupun dengan segudang kelebihan yang dimilikinya, dia terlihat sangat biasa saja dalam bersikap. Tidak ada kesan sombong atau superior yang muncul pada dirinya. Mungkin itu sebabnya sejak pertama kali bertemu, saya tahu kalau saya sedang berhadapan dengan seorang wanita yang luar biasa.




Monday, June 22, 2015

The Beginning - Introduction to My Life


Setiap manusia pasti memiliki banyak cerita dalam hidupnya. Semakin dewasa seseorang maka makin banyak pula cerita yang pernah terjadi dalam hidupnya. Tulisan ini juga merupakan bagian kecil dari cerita hidup saya selama ini. Seperti yang lain, cerita saya ini pun memiliki pun memiliki awal. Berikut ini adalah catatan bagaimana cerita saya dimulai...

 

The Beginning - Introduction to My Life

 

Pertemuan pertama saya dengan suami adalah sekitar 12 tahun yang lalu. Kali pertama kami bertemu adalah saat pekan orientasi kampus. Ketika saya, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kampus, masih kebingungan mencari ruangan tempat penerimaan mahasiswa baru, takdir pun mempertemukan kami. Dua orang yang terlambat menghadiri acara penerimaan mahasiswa baru itu pun segera menjadi teman baik. 

Pertemanan kami pun berlanjut hingga akhir tahun ketiga masa kuliah. Mungkin karena sering berinteraksi, atau juga karena perasaan senasib (kami sama-sama anak rantau), benih-benih rasa cinta itu pun mulai hadir. Akhirnya kami pun sepakat untuk menjalin hubungan serius dan berencana untuk menikah setelah kami lulus kuliah. 

Hubungan kami bisa dikatakan cukup lancar. Kedua orangtua kami pun setuju dengan rencana pernikahan kami walaupun kami baru saja lulus dan akan memulai pekerjaan pertama kami. Toh menurut mereka, kalau sudah cocok untuk apa ditunda-tunda. Rezeki juga sudah ada yang mengatur. Tugas kita ya cuma menjemputnya saja. 

Berbekal restu dari kedua belah pihak, akhirnya pernikahan kami pun ditetapkan. Setelah acara lamaran dan tunangan, saya pun berkesempatan berkenalan dengan keluarga besar calon suami. Calon suami saya pun mengenalkan saya kepada saudara kembarnya yang baru saja menyelesaikan studinya di kota yang berbeda. Saat itu jugalah pertama kalinya saya bertemu wanita tersebut, The Perfect Wife